Pegangan

Percakapan MbahBro (M) dengan seorang Pemimpin (P).
P : Mbah, saya ingin punya “pegangan”?
M : Pegangan apa tho, le?
P : Yang bisa meredam massa!
M : Maunya yang instan atau ribet?
P : Yang instan dong, mbah!
M : Ya udah 3 hari lagi kesini!
P : Bisa dipercepat 1 hari Mbah?
M : Sekarang juga bisa, tapi biayanya premium.
P : Berapa maharnya?
M : Coba dulu, nanti kalau cocok baru transfer ke rekening simbah!
P : Oke, deh Mbah. Boleh minta yang lain lagi? Mumpung sowan kemari.
M : Boleh saja.
P : Ingin belajar ilmu goib, tapi nggak perlu dalam-dalam sih.
M : Boleh, maunya paket mana? Ini ada paket pemula, menengah, mahir, guru, dan mahaguru.
P : Yang pemula, Mbah. Itu termasuk pahe nggak?
M : Untuk kamu, mbah diskon deh. Kan udah langganan. Tapi jangan lupa, kalau ada proyek, yang nanganin simbah saja. Soal fee bisa diatur itu.
P : Makasih banget, Mbah! Eh, ngomong-ngomong Si Ani mana Mbah? Kok nggak kelihatan?
M : Lagi njemur G-Stringnya! Emangnya mau apa sama dia? Naksir?
P : Kalo boleh, mau saya jadikan koleksi, eh keliru, maksudnya nikah siri.
M : Boleh saja, asal dia mau dan cocok setorannya.
P : Oke deh!

Copas Ilmu

Percakapan MbahBro (M) dengan seorang Bocah (B).

B : Mbah, aku mau nanya katanya ilmu copas itu nggak akan berhasil? Kalopun berhasil, nggak barokahi?
M : Benar itu le!
B : Kenapa Mbah?
M : Pertama, karena nggak ijin dan dapat restu dari pemegang ilmu. Kedua, karena tak dapat ijin, itu artinya mencuri.
B : Kan yang punya ilmu itu orang baik, masak harus ijin segala.
M : Ini soal tata krama dan aturan, Le. Bisa jadi di ilmu itu, ada hal yang berbahaya, sehingga harus dipantau penggunaannya.
B : Mereka kan sakti dan tentu saja tahu resiko, bahwa keilmuannya bisa dicuri dan disalah-gunakan.
M : Nggak semudah itu pemahamannya, Le?
B : Nggak semudah gimana? Mestinya mereka itu nyiptain ilmu yang bermanfaat saja, bukan yang bisa buat mudharat.
M : Maunya kamu itu apa tho, Le? Kok investigatif banget kaya’ Mbak Fessy Alwi.
B : Wah, simbah genit nih! Sudah tua masih suka yang bening-bening. Entar, saya bilangi ama Dhok’e lho?
M : He he he. Mosok saban hari liat Dhok’e terus? 
B : Yo wis sakkarepe simbah ae! Sekarang kita kembali ke laptop! Sebenarnya saya nggak yakin, para sesepuh orangnya pelit bin kejam. Pastinya mereka ngerti bahwa suatu saat keilmuan berkembang mengikuti zaman. Makanya kini ada istilah instan dan juga media berupa kapsul rajah. Jadi kalo di-copas kan nggak masalah?
M : Ya, masalah. Itu namanya nggak sopan dan …
B : Malati, terus mereka mengutuk orang yang hobi-nya copas. Kalo emang gitu jahat betul. Lantas apa maknanya ilmu hikmah kalo gitu? Pingin dipuja2? Pingin disanjung2 sepanjang sejarah manusia?
M : Sudah mimpi basah apa belum?
B : Apa hubungannya mimpi basah dengan diskusi ini?
M : Kamu itu masih ababil, penuh emosional. Orang yang berilmu nggak kaya’ gitu! Belum paham bahwa dunia itu tak sekedar hitam-putih.
B  : Terus?
M : Ya gitu thok!
B : Aaarrrrgggh.

Ilustrasi Kesadaran

Percakapan MbahBro (M) dengan seorang Sial (S).
S : Mbah, aku mau nanya sesuatu, boleh nggak?
M : Boleh.
S : Kenapa hidupku selalu sial?
M : Ya nggak papa tho, Le!
S : Nggak papa gimana tho, Mbah?
M : Itu sudah jalur kehidupanmu.
S : Masak sial terus?
M : Maunya kamu itu apa?
S : Mbok ya sekali-kali seneng gitu. Bisa terawang aku kan?
M : Buat apa?
S : Biar bisa introspeksi dan syukur-syukur dapat solusi.
M : Jika pernah nonton Men In Black (MIB) 3, disitu Agent K, berkata “Jangan ajukan pertanyaan yang jawabannya tak ingin kau tahu”.
S : Wah, Mbahe gaul juga ternyata. Sudah aki-aki masih suka nonton film.
M : Iya iyalah, masak iya dong. Duren dibelah bukan dibedong.
S : Qiqiqi. Belum pernah nonton, maklum tongpes.
M : Di Al Qur’an juga sudah ada, meski dengan redaksional berbeda. Makanya kalo ngaji sampai khatam lalu dilanjutkan bahasan asbabun nuzul dan wurudnya. Baru Iqro’ Satu sudah mrotol.
S : Terus?
M : Nabrak, grobyak!
S : Hadeuwh, Mbahe ikutan jadi Alay.
M : Ciyuss? Enelan?
S : Pliss deh Mbah, yang serius! Dikasih nasehat, gitu lho!
M : Oke2. Intinya dalam kehidupan kita harus Qona’ah (Narima Ing Pandum), lakukan segala ikhtiar, hindari prasangka.
S : Kalau sengsara terus, gimana?
M : Udah nasib.
S : Nasib baik, mengapa engkau tak biarkan aku menggelayut di pundakmu itu?
M : Halah halah sok puitis! Lempar panci nih, klonthang!
S : He he he, nggak kena!
M : Panggil Satpol PP, kalo gitu!
S : Wah, Mbahe beraninya keroyokan? Kok bercanda melulu? Gimana nasibku ini?
M : Terima saja, anggap sebagai elemen keseimbangan alam. Bukankah kiamat akan hadir jika faktor keseimbangan alam telah lenyap?
S : Maksudnya Mbah, aku kok nggak ngerti?
M : Di dunia ini, ada siang ada malam, ada lelaki ada perempuan, ada senang ada sedih. Jadi jika ada yang sial, berarti kan ada yang beruntung. Kebetulan kamunya dapat jatah sial. Eh, jangan-jangan kamu itu Wali lho. Seorang wali biasanya mendapat ujian yang menyakitkan. Kalau memang nggak Wali, ya nggak masalah, hitung-hitung mengurangi siksa di akhirat sana!
S : Kok nggak asyik banget sih Mbah?
M : Nggak asyik gimana? Emangnya Dangdut Koplo?
S : Huft.
M : Hmmm!

Kebutuhan Rakyat?

Percakapan MbahBro (M) dengan seorang Ketua Umum (K) Partai Gerandong.
M : Apakah stok kepemimpinan kita telah habis?
K : Tidak betul.
M : Tapi kok nggak ada tokoh yang muncul?
K : Bukannya nggak ada. Kita sedang menggodok kader-kader kita. Dan ingat kita tidak butuh popularitas, pas nanti pada waktunya pasti akan dimunculkan.
M : Ooo gitu ya? Lantas apa makna pertemuan Ketua Dewan Penasehat Partai minggu lalu, dengan suami Ketua Partai Djakfaron Indonesia-Perjuangan?
K : Hanya sekedar silaturahmi belaka.
M : Beliau kan dari partai oposisi. 
K : Apa salah berhubungan dengan oposisi? Saya kira tidak, partai kami merangkul semua pihak, asalkan punya visi dan misi yang sama.
M : Apa itu artinya akan ada koalisi? 
K : Sampai saat ini belum ada pembicaraan ke arah itu. Lihat saja dinamika yang berkembang!
M : Waktu 2 tahun bukanlah waktu yang lama. Apa nggak segera melakukan lobi-lobi sejak dini, siapa yang perlu direkrut?
K : Terlalu prematur kalau dilakukan saat ini, apalagi internal partai kami sedang melakukan pembenahan ke dalam.
M : Ngomong-ngomong soal pembenahan, kan kader partai anda yang kesandung masalah dan out dari kursi kementerian. Dan kabarnya kursi yang ditinggalkannya menjadi para partai pendukung koalisi.
K : Tak eloklah rasanya jika dikatakan rebutan kursi.
M : Kalau bukan rebutan kursi, lantas istilahnya apa?
K : Lebih tepatnya mereka sekedar mengusulkan, dan semua usulan tadi ditampung, biar Bapak yang memutuskan, beliau itu cerdas dalam memilih siapa pembantunya, lagian itu juga hak prerogatifnya.
M : Bagaimana dengan Partai Kembang Setaman? Apa mereka juga dimintai pendapatnya? Karena mereka sering berseberangan pendapatnya dengan partai anda.
K : Tentu saja sebagai kawan seiring, diajak rembug. Tak ada yang dianak-tirikan.
M : Soal sang istri yang diantar saat pemeriksaan oleh Komisi Pendukung Klenikisme, apakah itu benar sekedar support seorang suami terhadap isteri atau ada tendensi lain.
K : Orang bisa mengatakan itu ada udang dibalik batu, tapi sejujurnya, saya katakan hanya sebagai bentuk perhatian dan kasih-sayang seorang suami, tak ada faktor lain.

Penerawangan

Percakapan MbahBro (M) dengan sebuah Akun FB (A).
M : Kamu itu cewek apa cowok, sih?
A : Katanya Mbahe bisa menerawang?
M : Lha ngapain nerawang? Itu sama artinya jeruk makan jeruk.
A : Halah alesan. Emang nggak bisa. Ngomong dong yang jujur!
M : Kalo emang nggak bisa, masalah buat loe?
A : Aaaarrggh.
M : Makanya jadi orang itu yang jelas. Cewek ya cewek. Cowok ya cowok. Garis miring ya garis miring.
A : Garis miring itu apa Mbah?
M : Garis miring itu ya transgender. Coba tho lihat, kalo mau ngisi formulir pasti kan ada L/P!
A : Ooo gitu ya?
M : Jika kamu itu memang cowok, ngapain pake akun FB kaya’ gini Santi Che’imoet-imoet, lagaknya kemayu lagi pic-nya?
A : He hehe. Mau nanya gimana nih nasibku kedepan?
M : Keblangsak.
A : Kok jelek banget sih terawangannya? Aku nggak percaya.
M : Makanya sebelum nanya, mbok yao mikir. Kalo jawabannya buruk gimana?
A : Kan ada solusinya?
M : Belum tentu mau menjalankan.
A : Jangan su’udzon tho Mbah!
M : Lihat dari casing-nya aja meragukan.
A : Don’t judge the book from the cover!
M : Tampang koyo’ sampeyan kuwi gak meyakinkan.
A : Gak meyakinkan gimana?
M : Cowok kok pake nama akun perempuan.
A : Suka-suka gue tho Mbah.
M : Ini kan juga suka-suka gue juga!
A : Mbales nih ceritanya?
M : Emang.
A : Hmmm.
M : Hmmm juga.
A : Kluthik.
M : Klothak.
A : Wis mbuh sakkarepmu, mbah mbah.
M : Oke-oke!

%d blogger menyukai ini: